Menua Bahagia Menjadi Lansia SMART

“Usia senja bukanlah hal yang membuat sedih. Itu bisa jadi hal yang disyukuri jika kita menyelesaikan semua pekerjaan kita.” -Thomas Carlyle.

Manusia dalam proses kehidupannya pasti akan mengalami proses menjadi tua. Proses penuaan merupakan suatu proses yang alami dan tidak dapat dicegah. Seiring dengan kemajuan di bidang kesehatan yang ditandai dengan menurunnya angka kematian, memengaruhi jumlah lanjut usia dari tahun ke tahun.

Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Undang-Undang No. 13 Tahun 1998). Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan bahwa dalam waktu hampir lima dekade (1971-2020), persentase lansia Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat yakni menjadi 9,92 persen (26 juta-an) di mana lansia perempuan sekitar satu persen lebih banyak dibandingkan lansia laki-laki (10,43 persen berbanding 9,42 persen).

Proses penuaan atau menjadi tua adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan. Kondisi tersebut mengakibatkan berbagai penurunan fungsi organ sehingga berpengaruh terhadap kemampuan tubuh dan kerentanan terhadap penyakit. Penelitian yang dilakukan Setiati, dkk. menunjukkan sekitar satu dari lima lansia yang tinggal di komunitas Indonesia mengalami kerentaan (frailty syndrome) karena berbagai faktor di antaranya adalah faktor gizi, status fungsional, dan menurunnya kualitas hidup. Data Riskesdas tahun 2018 mencatat bahwa lansia di Indonesia sebagian besar memiliki penyakit degeneratif dan/atau gangguan kesehatan kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018).

Situasi pertumbuhan lansia di Indonesia dengan segala kondisinya tersebut menjadi tantangan pembangunan kesehatan agar peningkatan jumlah lansia diiringi dengan peningkatan kesehatan dan kualitas hidup lansia. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi lansia serta pemberdayaan masyarakat dan lansia adalah upaya untuk mewujudkan lansia yang Sehat, Mandiri, Aktif, dan Produktif (SMART).

Lansia yang SMART dapat menjalani hidup yang berkualitas, salah satu caranya adalah tetap melakukan aktivitas dan latihan fisik. Latihan fisik berintensitas sedang yang dilakukan secara rutin dapat memberikan efek positif yaitu dapat mengurangi kerentanan terhadap infeksi. Manfaat latihan fisik lainnya bagi lansia adalah mengendalikan penyakit kronis, memperlambat proses biologis karena penuaan yang memengaruhi kapasitas fungsional, meningkatkan kesejahteraan dari aspek psikologis dan kognitif serta meningkatkan usia harapan hidup.

Gambar Senam Lansia

Latihan fisik yang dapat dilakukan lanjut usia tentunya harus sesuai dengan kaidah Baik, Benar, Terukur dan Teratur (BBTT). Latihan yang “Baik” di antaranya harus melakukan pemeriksaan kesehatan dan/atau kebugaran terlebih dahulu, tempat latihannya aman dan nyaman serta dilakukan sesuai kemampuan. “Benar” dengan melakukan peregangan-pemanasan, latihan inti, dan pendinginan-peregangan. “Terukur” disesuaikan dengan target intensitas sedang yaitu 60-70% dari Denyut Nadi Maksimal (DNM à rumus DNM=220-usia) atau dengan talk-test (bisa sampai tahap mampu berbicara namun sulit bernyanyi). “Teratur” dengan melakukan latihan fisik sebanyak 3-5 kali per minggu dengan selang hari istirahat. Latihan fisik dapat bersifat aerobik, beban, kelenturan, dan keseimbangan.

Proses penuaan tidak dapat kita hindari tetapi kita dapat menua dengan berkualitas. Bukan suatu hal yang mustahil untuk tetap hidup Sehat, Mandiri, Aktif, dan Produktif. Beraktivitas dan berlatih fisik yang sesuai dengan kaidah BBTT adalah salah satu upaya untuk mewujudkan Lansia SMART.

No one can avoid aging, but aging productively is something else.”  – Katharine Graham

Ditulis oleh: Vanny Fabianti, S.Kep., Ners., M.KM

Sumber referensi:

  1. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2019. Badan Pusat Statistik. 2020. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
  2. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Kementerian Kesehatan RI. 2019. Jakarta: Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
  3. Nieman DC, Wentz LM. The compelling link between physical activity and the body’ s defense system. J Sport Heal Sci. 2019;8:201–17
  4. The Importance of Physical Activity Exercise among Older People. Birgitta L., Astrid B.,Elisabeth R..Biomed Res Int. 2018; 2018: 7856823.
  5. WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour 2020
  6. American College Sports Medicine (ACSM). (2018).  ACSM’s  Guidelines  for  Exercise  Testing  and  Prescription.  9th ed. Philadelphia: Lippincott Williams Wilkin.
  7. Frailty and Its Associated Risk Factors: First Phase Analysis of Multicentre Indonesia Longitudinal Aging Study. Setiati et al 1,2*.Published online 2021 Apr 29. ncbi.nlm.nih.gov. doi: 10.3389/fmed.2021.658580
  8. Frailty state among Indonesian elderly: prevalence, associated factors, and frailty state transition. Setiati et al. BMC Geriatrics (2019) 19:182 doi.10.1186/s12877-019-1198-8

 7,084 total views,  7 views today

×