Obesitas Juga Perlu Diatur, Loh!

Obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) dalam waktu lama. Klasifikasi Obesitas berdasarkan IMT kriteria Asia Pasifik:

KlasifikasiIMT
Underweight< 18,5
Normal18,5 – 22,9
Overweight23,0 – 24,9
Obesitas I25,0 – 29,9
Obesitas II> 30,0

Selain menggunakan IMT, metode lain untuk pengukuran antropometri tubuh terkait obesitas adalah dengan cara mengukur lingkar perut/lingkar pinggang. Pengukuran lingkar perut ini guna untuk mendeteksi adanya obesitas sentral. Obesitas sentral adalah penumpukan lemak dalam tubuh bagian perut. Penumpukan ini diakibatkan oleh jumlah lemak berlebih pada jaringan lemak subkutan dan lemak viseral perut.

Klasifikasi Obesitas Sentral berdasarkan Lingkar Perut menurut kriteria Asia Pasifik:

Jenis KelaminLingkar Perut/Pinggang
Perempuan≥ 80 cm
Laki-laki≥ 90 cm

Obesitas ditemukan tidak hanya pada orang dewasa, tapi juga pada remaja dan anak-anak. Pada tahun 2016, lebih dari 1,9 miliar orang dewasa usia 18 tahun ke atas mengalami kelebihan berat badan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 650 juta mengalami obesitas. Di Indonesia, angka proporsi obesitas pada orang dewasa > 18 tahun berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 adalah sebesar 21,8%. Angka ini terus meningkat dari sebelumnya 14,8% pada tahun 2013 dan 10,5% pada tahun 2007.

Selain itu, angka proporsi obesitas sentral pada orang dewasa ≥ 15 tahun berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 sebesar 31,0%.

Obesitas umumnya disebabkan karena pola makan, dimana jumlah asupan energi berlebih daripada kebutuhannya sehingga menyebabkan kelebihan berat badan. Pemilihan jenis makanan tinggi kalori yang cenderung dengan kandungan lemak dan tinggi gula serta kurang serat, menyebabkan ketidakseimbangan energi. Selain itu, pola aktivitas yang sedentary (kurang gerak) juga menyebabkan energi yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari cenderung lebih sedikit dengan energi yang dikonsumsi.

Selain dari faktor pola makan dan pola aktivitas, obesitas juga bisa disebabkan karena konsumsi obat-obatan jenis steroid yang digunakan dalam jangka waktu lama untuk terapi asma, osteoartritis, dan alergi yang dapat menyebabkan meningkatnya nafsu makan sehingga meningkatkan juga risiko obesitas.

Obesitas bila tidak ditangani akan berdampak pada kesehatan. Ditandai dengan sindroma metabolik, di mana adanya peningkatan kadar trigliserida dan penurunan kolesterol HDL, serta meningkatkan tekanan darah. Bila tidak segera diatasi, dapat juga berdampak pada timbulnya penyakit tidak menular lainnya, seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung koroner, dislipidemia, perlemakan hati, gangguan menstruasi pada wanita hingga infertilitas.

Oleh karena itu, diperlukan manajemen pengelolaan obesitas dengan tujuan penurunan berat badan kembali ke berat badan normal. Pengelolaan obesitas ini berprinsip untuk mengatur keseimbangan energi. Energi yang masuk harus lebih rendah dibandingkan energi yang dibutuhkan dan dikeluarkan. Dimulai dengan pengaturan makan bagi orang dengan obesitas, disarankan menggunakan piring makan model T seperti berikut.

Gambar 1. Prinsip piring model T
Sumber: P2PTM Kemenkes RI

Dengan menggunakan piring makan model T ini, orang dengan obesitas diharuskan untuk mengonsumsi sayur dua kali lipat dari jumlah makanan sumber karbohidrat dan jumlah protein yang setara dengan jumlah makanan sumber karbohidrat. Peningkatan konsumsi sayur ini guna meningkatkan asupan serat yang mana mampu memberikan perasaan kenyang dalam waktu yang cukup lama, namun tetap rendah kalori.

Konsumsi protein yang sama dengan porsi sumber karbohidrat juga perlu memperhatikan kandungan lemak dalam sumber protein tersebut. Dianjurkan untuk memilih sumber protein rendah lemak seperti, daging ayam tanpa kulit, ikan, telur (terutama bagian putih), serta kacang-kacangan. Perlu juga diperhatikan pengolahannya, minimalkan proses pengolahan dengan cara digoreng dengan minyak banyak. Pilih proses pengolahan seperti direbus, dikukus, ditumis, atau dibakar dengan api jauh.

Konsumsi buah sebagai makanan selingan akan lebih membantu dalam pengelolaan obesitas. Sama dengan sayur, buah dikonsumsi selain sebagai sumber serat juga merupakan sumber vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan untuk memelihara kesehatan tubuh manusia. Batasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) juga diperlukan dalam pengelolaan obesitas. Berikut anjuran konsumsi gula, garam, dan lemak sesuai dengan Permenkes Nomor 30 Tahun 2013.

Gambar 2. Anjuran Konsumsi Gula, Garam, Lemak
Sumber: BKOM Bandung

Selain pengaturan pola makan, orang dengan obesitas juga dianjurkan untuk aktif bergerak. Orang dengan obesitas disarankan untuk aktif bergerak sesuai dengan kemampuan dan kondisi tubuh. Untuk tahap awal, dapat dimulai dengan jalan kaki atau jalan cepat selama 10 menit dan bertahap dinaikkan durasinya. Setelah meningkat mencapai 30 menit, dapat divariasikan dengan bersepeda, renang, jalan di kolam renang, dan senam aerobik dengan benturan rendah. Frekuensi latihan fisik yang disarankan adalah 3-5 kali per minggu dengan durasi 150 menit per minggu yang mana berarti dalam sekali latihan fisik dilakukan selama minimal 30 – 50 menit dengan intensitas ringan hingga sedang. Lakukan secara konsisten untuk hasil yang lebih baik.

Perlu diperhatikan, latihan fisik ini disesuaikan dengan kemampuan setiap individu. Perlu diperhatikan juga apabila saat latihan fisik terdapat keluhan yang tidak biasa seperti sakit kepala, nyeri dada, sesak napas, mual, dan mata berkunang-kunang. Apabila terjadi hal-hal tersebut, latihan harus segera dihentikan. Pengelolaan pola makan dan pola aktivitas serta latihan fisik ini diharapkan dapat membantu orang dengan obesitas kembali ke berat badan normalnya. Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap dan jelas, bisa konsultasi kepada Ahli Gizi atau tenaga kesehatan lainnya agar pengelolaan obesitas dapat berjalan dengan baik.

Ditulis oleh: Rizqa Fajar R., AMG

Sumber:

  1. Kemenkes. (2017). Panduan Pelaksanaan Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (GENTAS). Jakarta
  2. Kemenkes. (2018). Epidemi Obesitas. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. Kemenkes. (2019). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Lembaga Penerbit Balitbangkes
  4. WHO. (2021). Fact Sheets: Obesity and Overweight.

 32,067 total views,  9 views today

One thought on “Obesitas Juga Perlu Diatur, Loh!

Komentar ditutup.

×