SKRINING KESEHATAN SEBELUM BEROLAHRAGA

Partisipasi masyarakat untuk berolahraga terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2023 tingkat partisipasi masyarakat untuk berolahraga sekitar 25,4%, dimana terjadi penurunan sebesar 3% dibandingkan tahun 2022. Hal ini sejalan dengan turunnya level kebugaran di masyarakat. Sebagian besar remaja dan dewasa muda memiliki tingkat kebugaran yang kurang (83,55%). Status tingkat kebugaran yang kurang ini bukan hanya dialami remaja dan dewasa muda, tapi pada semua lini usia.

Olahraga atletik (lari/jalan) merupakan jenis olahraga terpopuler di tengah masyarakat Indonesia, diikuti senam, sepakbola, bola voli, bulutangkis, dan lain-lain. Lari merupakan olahraga yang paling digemari karena mudah dilakukan dan tidak membutuhkan biaya besar. Selain itu, kemunculan berbagai komunitas lari dan tren apparel menambah jumlah peminat olahraga lari.

Olahraga selain memberikan beragam manfaat bagi tubuh kita juga memiliki risiko seperti cedera olahraga, sehingga sangat penting untuk melakukan persiapan sebelum berolahraga. Persiapan tersebut diantaranya adalah apparel yang sesuai dengan jenis olahraganya, dan yang tak kalah pentingnya adalah persiapan fisik. Seberapa yakin Anda kalau fisik Anda siap untuk berolahraga dan mampu finish tanpa mengalami cedera?

Mungkin kita pernah mendengar kasus henti jantung pada orang yang mengikuti event lari. Meskipun angka kejadian kardiovaskular saat berolahraga cukup kecil (2.6 kasus/tahun/100.000 olahragawan), namun hal ini selayaknya bisa dicegah dengan skrining kesehatan sebelum berolahraga. Risiko kardiovaskular saat berolahraga umumnya dialami oleh orang yang memiliki riwayat/gejala penyakit kardiovaskular dan tidak terbiasa dengan latihan intensitas tinggi.

Tujuan utama skrining kesehatan sebelum berolahraga adalah untuk mengidentifikasi risiko mengalami kejadian kardiovaskular saat berolahraga. Selain itu, skrining ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi (1) orang yang harus memiliki izin medis sebelum memulai latihan intensitas sedang-tinggi atau ingin meningkatkan intensitas latihan, (2) orang yang memiliki penyakit dan melakukan olahraga dengan supervisi oleh tenaga medis, (3) orang yang harus memiliki kondisi medis terkontrol sebelum memulai latihan.

Skrining kesehatan ini sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan olahraga profesional. Apabila tidak ada tenaga kesehatan, Anda dapat menggunakan kuesioner Kesiapan Aktivitas Fisik (PAR-Q). Skrining kesehatan menilai tiga aspek yaitu (1) tingkat partisipasi/keteraturan latihan fisik saat ini, (2) adanya tanda atau gejala dan/atau penyakit kardiovaskular, metabolik, atau penyakit ginjal, dan (3) intensitas latihan fisik yang diinginkan.

Penilaian pertama, tingkat partisipasi/keteraturan latihan yaitu menilai riwayat latihan fisik seseorang. Latihan teratur adalah latihan intensitas sedang,  minimal 30 menit/sesi, ≥ 3x/minggu selama 3 bulan terakhir. Orang yang tidak teratur berolahraga memiliki risiko kardiovaskular jika melakukan latihan dengan intensitas yang tidak sesuai.

Penilaian kedua, identifikasi orang yang memiliki tanda atau gejala dan/atau terdiagnosis penyakit kardiovaskular, metabolik, atau penyakit ginjal. Tanda/gejala kardiovaskular seperti keluhan nyeri dada, rasa tidak nyaman di dada, leher, lengan (tanda awal iskemia), sesak nafas saat istirahat atau aktivitas ringan, bengkak pergelangan kaki, berdebar, dan lain-lain. Penilaian ketiga, identifikasi intensitas latihan yang diinginkan. Latihan intensitas tinggi lebih berisiko memicu kejadian kardiovaskular akut.

Hasil dari proses skrining ini adalah menentukan perlu/tidaknya izin medis dari dokter yang berkompeten sebelum seseorang mulai berolahraga. Izin medis untuk berlatih di intensitas sedang-tinggi pada orang dengan tanda/gejala penyakit kardiovaskular tidak hanya didasarkan pada faktor risiko kardiovaskular yang dimiliki, tetapi melalui evaluasi medis lengkap oleh tenaga medis profesional.

Bagi orang yang memiliki riwayat latihan teratur (a) tanpa adanya penyakit/gejala, maka boleh memulai latihan dengan bertahap, (b) memiliki penyakit namun tidak ada gejala, maka diperbolehkan latihan selama bebas gejala dan setidaknya memiliki izin medis 1 tahun terakhir, (c) memiliki penyakit dan bergejala, maka hentikan latihan dan segera cek kesehatan untuk mendapatkan izin medis. Sedangkan bagi orang yang memiliki riwayat latihan tidak teratur tanpa penyakit/gejala, maka boleh memulai latihan dengan intensitas ringan-sedang dan meningkatkan latihan bertahap, namun jika memiliki penyakit dengan/tanpa gejala, maka hentikan latihan dan segera cek kesehatan untuk mendapatkan izin medis.

Orang dengan perilaku sedentari disarankan untuk memulai latihan fisik dengan intensitas ringan dan meningkatkan intensitas latihan bertahap selama tidak ada keluhan/gejala atau menggunakan prinsip latihan “start low and go slow”. Latihan intensitas ringan-sedang  memiliki risiko rendah terhadap kejadian henti jantung. Risiko bisa diminimalisir dengan peningkatan beban latihan (durasi dan intensitas latihan) secara bertahap selama 2-3 bulan. Hal ini akan meminimalkan risiko cedera muskuloskeletal dan meningkatkan kebugaran jantung paru tanpa risiko kardiovaskular.

Mari cegah risiko kardiovaskular dengan cek kesehatan sebelum berolahraga.

Ditulis oleh: dr. Riza Adriyani, M.Or

KEPUSTAKAAN

  1. Besenius E., Cabri J., Delagardelle C., Stammet P., Urhausen A. Five Years-Results of a Nationwide Database on Sudden Cardiac Events in Sports Practice in Luxembourg. Dtsch Z. Sportmed. 2022;73:24–29.
  2. http://eparmedx.com/wp-content/uploads/2013/03/January2020PARQPlusFillable.pdf
  3. Liguori, G., & American College of Sports Medicine. (2020). Preexercise evaluation. ACSM’s guidelines for exercise testing and prescription. Lippincott Williams & Wilkins.
  4. Magal M, Riebe D. New preparticipation health screening recommendations: what exercise professionals need to know. ACSM Health Fitness J. 2016;20(3):22–
  5. Toho Cholik Mutohir, dkk (2023). Laporan Indeks Pembangunan Olahraga: Kebugaran Jasmani dan Generasi Emas 2045. Deputi Pembudayaan Olahraga. Kemenpora.

 39,087 total views,  3 views today

×